Pasti kata-kata ini sudah tidak asing di telinga. Mungkin sudah menjadi bagian dari hidup ataupun menjadikannya suatu acuan hidup atau motto. Tapi, tiap kali aku mendengar kata-kata ini, rasanya agak aneh. Mengapa? Apa karena kata-kata ini sudah biasa? Atau sudah banyak yang menggunakannya? Entahlah.
Siang yang terik itu, hampir membuat tubuh terasa terbakar. Rasanya benar-benar panas. Memang benar Jakarta itu padat dan panas.
"Cuaca hari ini panas sekali ya?". Aku kaget dan kemudian menoleh ke belakang. Ternyata itu Felita, pertemanan kami sudah dimulai sejak kecil. Aku sangat iri padanya. Dia berparas cantik, rambutnya panjang hitam-berkilau terurai dan kulitnya putih bersih. Aku bingung mengapa kulitnya tidak menjadi coklat, padahal dari dulu Jakarta kan panas. "Iya, panas banget. Oh ya, mau langsung pulang?" tanyaku. "Iya deh, pulang aja. Enggak tahan juga lama-lama disini".
Di perjalanan, Felita banyak sekali bercerita. Mulai dari pelajaran sampai masalah pribadinya. Aku sangat senang jadi pendengarnya. Jika Felita sedang berbicara, entah mengapa aku suka sekali. Mungkin karena gaya berbicaranya yang sopan juga tidak berbelit-belit.
"Iya tadi gue kesel banget! Ulangan Bahasa Indonesia gue tanggung deh. Tinggal 0,2 dua lagi dapet sembilan. Kesel enggak sih kalo lo dapet nilai segitu?" matanya memicing karena kesal. Aku hanya mengangguk. Aku mulai mengalihkan topik. "Tadi di kelas ngapain aja?". Kemudian Feli bercerita tentang teman sekelasnya yang selama ini ia perhatikan dan membuatnya cukup tidak senang. "Iya akhir-akhir ini dia menyebalkan! Enggak tahan gue ngeliatnya. Gayanya sok. Siapa sih yang enggak males?". Aku cumua mengangguk lagi. "Yah... biarin aja deh. Nobody's perfect kan?". Sebenarnya aku sudah sering mendengar kata-kata itu. Bosan aku mendengarnya. Tapi mengapa ya banyak orang yang menyukai kalimat itu?
Sesampainya dirumah, aku duduk di ruang tengah. Merenungi arti kalimat itu. Buatku, kalimat itu tidak lebih dan tidak kurang hanya sebagai kata kiasan. Cuma untuk menghibur diri semata. Aku berpikir bahwa seseorang yang sudah mengucapkan kalimat itu adalah orang yang pasrah melihat keadaan sosialnya. Jika tidak suka ya coba saja dekati dan ubah sifatnya, jangan cuma ngedumel sendiri di belakang saja. Tapi mungkin itu juga percuma. Orang lain ya orang lain. Bukan kita.
Akupun membuka kamus. Aku tahu artinya "tidak seorangpun yang sempurna". Aku jadi pusing sendiri mengapa banyak orang yang suka mengatakan kalimat itu.
Pagi itu aku bersiap-siap hendak ke sekolaj bersama Feli. Sepanjang perjalanan aku cuma diam. "Tumben diem, biasanya udah cerewet. Ada masalah?" tanya Feli. Aku cuma menggeleng. Mana mungkin aku cerita? Cuma karena kalimat aneh dan pasaran seperti itu membuatku pusing. Sepertinya Feli merasa tidak dipercayai sebagai teman. Ia mempercepat langkahnya dan pergi mendahuluiku.
Dua minggu sudah kami tak saling menyapa. Pernah saat itu aku melihat Feli seperti mau menangis. Dan sepertinya Feli melihatku dan bisa aku tebak ia ingin aku mendengarkan apa yang terjadi dengannya. Tapi dia malah pergi.
Hari Minggu ini aku berencana untuk santai dirumah. Aku juga masih pusing dengan kalimat itu. Tapi aku menyerah dalam mencari makna kalimat itu buatku sendiri. Aku akhirnya meminjam film dari tetanggaku yang katanya adalah film kesukaannya dan cocok untukku saat ini.
Ceritanya agak menarik. Jadi ada seorang anak yang sangat menyukai buku. Banyak buku yang sudah ia baca. Sayangnya anak ini termasuk anak yang pemalu dan takut bergaul. Ia takut karena banyak buku yang dibacanya bahwa "dunia luar" itu menyeramkan dan tidak bersahabat. Jadi ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyendiri dan membaca buku.
Hingga ia diberi tantangan untuk mengartikan bahwa pandangannya terhadap "dunia luar". Jika ia tidak menerima tantangan itu kata si pemberi tantangan maka ia akan terus terkurung dalam ruang sempit yang terus ia tinggali.
Setelah ia berpikir, saat itu ia langsung mengambil tantangan tersebut. Awalnya ia merasa tidak bisa melakukannya. Setelah sekian lama si pemberi tantangan kembali untuk mengetahui hasilnya. Ia mengatakan bahwa ia belum menemukan apa-apa. Ia minta diberi waktu lagi.
Kembalilah si pemberi tantangan dan ingin mengetahui apa yang ia dapat. Lagi-lagi ia belum mendapat apa-apa. Masih berpikir dan yakin bahwa "dunia luar" itu keji dan kejam. Ia minta diberi waktu lagi.
Untuk ketiga kalinya si pemberi tantangan kembali dan ingin mengetahui apa yang ia dapat. Si pemberi tantangan memberikan waktu yang lama daripada sebelumnya.
Anak inipun mulai bisa mengartikan. Mulai menerima dan mengubah cara berpikirnya dari negatif ke positif. Ia memberitahu bahwa dunia rasanya seperti taman bermain. Ia dapat menemukan banyak hal yang tidak ada terdapat dalam buku.
Aku juga harus semangat mencari arti kalimat yang aku pikirkan. Jika anak itu dapat mengartikan apa yag sebelumnya tidak ia ketahui, aku juga mau mencari apa yang aku ingin tahu. Bukan cuma tahu tetapi dipahami juga.
Sorenya aku buru-buru ingin meminta maaf kalau aku tidak mau bercerita pada Feli. Sayangnya, Feli sedang pergi untuk menjemput kakaknya yang baru pulang tugas di luar kota. Malamnya aku mencoba menelpon lagi. Aku bercerita semuanya yang mengganjal di otakku. Feli tertawa. katanya ia cuma berpura-pura melihatku jika tanpa dia. Dan ia menangis karena senang kakaknya pulang bertugas dari luar kota.
Feli mengatakan memang kadang-kadang kita bosan mendengar kalimat yang sama setiap harinya. Tapi walaupun kata-katanya sama belum tentu juga setiap orang mempunyai pandangan yang sama terhadapnya.
Sejak itu baru aku sadar makna kata tersebut. Aku dan Feli termasuk orang yang tidak sempurna, bahkan tidak ada seorangpun yang sempurna. Dan ketidaksempurnaan itulah yang berusaha kami tutupi bersama-sama. Kami saling mendukung satu sama lain agar menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun kata orang di dunia ini tidak ada yang sempurna, setidaknya kalian dapat berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Menurutku sifat seseorang tidak perlu dirubah, karena itulah mereka. Sifat itulah yang membuat "itulah dia". Jika sifat itu adalah sifat yang negatif aku merasa kita tidak perlu menyadarkannya. Karena jika ingin merubah sikap, berasal dari pribadi masing-masing. Itu adalah hal yang harusnya disadari sendiri bukan orang lain dan yang ingin merubah kan diri sendiri bukan orang lain. Jadi, jika ingin merubah diri ke arah yang lebih baik, haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan harus mempunyai keyakinan untuk berubah.
Apakah kalian punya kata atau kalimat yang kalian suka? Apakah kalian sudah memahaminya benar-benar? Jawablah dan carilah dalam dirimu sendiri.
Karya: Irene Graciana (dengan sedikit perubahan)
(Sebenarnya ini adalah cerpen untuk tugas sekolah, karena lupa mengumpulkan ya di post di blog aja deh. Agak nyesel juga sih kenapa nggak ngumpulin yang ternyata sekolah membuat buku kumpulan cerpen)
(Sebenarnya ini adalah cerpen untuk tugas sekolah, karena lupa mengumpulkan ya di post di blog aja deh. Agak nyesel juga sih kenapa nggak ngumpulin yang ternyata sekolah membuat buku kumpulan cerpen)
See you on my next post :D
keren rene :)
ReplyDeleteIya ya? padahal lagi mentok banget pengen bikin karang apa buat pak aji waktu itu :p
ReplyDelete